Tampilkan postingan dengan label REVIEW OF INDIVIDUAL 2. Tampilkan semua postingan

TEORI DEPENDENSI - AHMAD SIDDIQ (2013230057)

Teori Ketergantungan atau yang biasa di kenal dengan teori Dependensi ini mulai menjadi populer pada tahun 1960an. Teori ketergantungan sendiri mengkhususkan penelitiannya pada hubungan antara Negara dunia pertama dan Negara dunia ketiga. Teori ini kemudian berkembang sebagai suatu kritik terhadap teori modernisasi yang dianggap sangat menyesatkan dalam hal prediksi nya terhadap prospek pembangunan di dunia ketiga. Teori Modernisasi yang menyatakan bahwa pembangunan itu seharusnya mencontoh apa yang dilakukan oleh Negara – Negara barat yang telah terlebih dahulu maju, justru malah membuat Negara dunia ketiga yang mengikuti teori tersebut menghadapi masalah dalam hal perekonomiannya. Hal tersebutlah yang kemudian turut mendorong muncul nya teori ketergantungan ini.

            Tokoh – Tokoh dari teori ketergantungan ini adalah Theotonio Dos santos dan Raul Prebisch. Dalam hal ini Thetonio Dos Santos menjelaskan bahwa kehidupan suatu Negara tertentu (Negara berkembang) dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi Negara lain (Negara Maju), yang dimana Negara tertentu (Negara Berkembang) ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Atau dengan kata lain positif atau negatifnya dampak perkembangan pembangunan di Negara maju akan membawa dampak pada Negara berkembang. Sedangkan Raul Prebisch lebih mengkritik konsep pembagian kerja secara internasional yaitu International Division of Labor (IDL), yang menurutnya telah menjadi penyebab munculnya masalah pembangunan di Negara berkembang. Karena dengan adanya konsep pembagian kerja secara internasional yang didasarkan pada teori keunggulan komparatif, telah membuat Negara – Negara di dunia melakukan spesialisasi produksinya. Yang mana oleh karena itu, Negara-negara di dunia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Negara pusat (center) yang menghasilkan barang industry dan Negara pinggiran (pheriphery) yang memproduksi hasil pertanian. Dimana keduanya saling melakukan perdagangan namun dalam hal ini dapat terlihat bahwa Negara pusat yang melakukan spesialisai pada industry menjadi kaya, sedangkan Negara pinggiran tetap saja miskin. Padahal seharusnya kedua Negara tersebut sama – sama kaya karena perdagangannya saling menguntungkan.

Analisis Raul Prebisch terhadap kemiskinan negara pingiran :
1.    Terjadi penurunan nilai tukar komoditi pertanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibanding hasil pertanian, akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan negara pertanian bila berdagang dengan negara industri.
2.    Negara-negara industri sering melakukan proteksi terhadap hasil pertanian mereka sendiri, sehingga sulit bagi negara pertanian untuk mengekspor ke sana (memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke pusat).
3.    Kebutuhan akan bahan mentah dapat dikurangi dengan penemuan teknologi baru yang bisa membuat bahan mentah sintetis, akibatnya memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke negara pusat.

Solusi yang ditawarkan Raul Prebisch:
Presbich berpendapat bahwa negara-negara yang terbelakang harus melakukan industrialisasi, bila mau membangun dirinya, industrialisasi ini dapat dimulai dengan Industri Substitusi Impor (ISI). ISI dilakukan dengan cara memproduksi sendiri kebutuhan barang-barang industri yang tadinya di impor untuk mengurangi bahkan menghilangkan penyediaan devisa negara untuk membayar impor barang tersebut. Pemerintah berperan untuk memberikan proteksi terhadap industri baru.  Ekspor bahan mentah tetap dilakukan untuk membeli barang-barang modal (mesin-mesin industri), yang diharapkan dapat mempercepat indrustrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Bagi Presbich campur tangan pemerintah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membebaskan negara-negara pinggiran dari rantai keterbelakangannya.

Referensi :
Stean, Jill & Pettiford, Llyod, Hubungan Internasional; Perspektif dan Tema., Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. (2009). “ Pengantar Studi Hubungan Internasional”. Yogyakarta; Pustaka Pelajar

TEORI DEPENDENSI - LUQYANA YASMIN (2013230034)

            Teori ketergantungan merupakan teori turunan ataupun nama lain dari teori strukturalisme. Dimana kaum strukturalisme menghendaki adanya keadilan yang merata di seluruh golongan dan lapisan masyarakat di dunia ( khususnya dunia ketiga ataupun dunia berkembang). Dimana strukturalis menilai bahwa adanya ketidakadilan terhadap system yang ada pada dunia ini, dimana hanya menguntungkan beberapa kelompok saja (Negara maju) dan menciptakan kerugian di pihak lain ( Negara berkembang ). Menurut kaum strukturalis sistem yang ada didunia ini sudah dirancang sedemikian rupa untuk menguntungkan kelas-kelas social tertentu dan semakin melemahkan kelas-kelas social yang powernya kurang bahkan tidak ada shingga pada akirnya menciptakan system dunia yang pada dasarnya tidak adil.

            Pada akir tahun 1960-an dan awal 1970-an ide-ide turunan dari pemikiran marxis dikembangkan oleh komunitas hubungan internasional. Walaupun teori marxis dan strukturalis di anggap kurang popular karna berkurangnya kepopuleritasannya  ( setidaknya di barat ) dalam perkembangan ilmu HI dikarnakan penjelasan –penjelasan ala ‘strukturalis’ tidak berperan penting pada awal perkembangan hubungan internasional, tetapi teori ini sangat penting dan berpengaruh dalam sejarah hubungan internasional. Dalam perkembangannya dalam hubungan internasional ada dua teori penting yang memiliki peran penting dalam perkembangan perspektif strukturalis yaitu teori ketergantungan dan teori system dunia.

Teori ketergantungan menurut Theotonio Dos Santos suatu teori pada keadaan dimana kehidupan ekonomi Negara-negara tertentu di pengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan Negara-negara lain dimana Negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Teori ketergantungan menjadi popular ketika pada tahun 1960-an dimana teori ini berkembang sebagai suatu kritik terhadap teori modernisasi liberal “teori ini biasanya dikaitkan dengan pembangunan dan industrialisasi kapitalis, penemuan teknologi, konsumerisme, ekonomi pasar, dan pertumbuhan populasi “. Teori moderniasasi dianggap sebagai satu pembenaran kuat bagi bentuk neo-imperaialisme, dimana salah satu kritik teori ketergantungan terhadap teori moderniasasi adalah ; (1) belum berjalannya system ini bahkan dalam masyarakat yang telah memakai nilai-nilai dan resep-resepnya, (2) menyatakan bahwa mereka bisa mejadi seperti kita (ex: orang miskin bisa menjadi orang kaya) setelah itu modernisasi akan menganggap budaya, tradisi dan sejarah beberapa Negara kurang berkembang sebagai sesuatu yang tak berarti.

            Kondisi ekonomi dan perpolitikan pada saat akir 1960-an dan awal 1970an adalah munculnya Negara-negara merdeka baru yang berusaha berjuang untuk keluar dari penindasan kolonialisme / imperialism yang dilakukan Negara-Negara penjajah di tanah mereka. Walaupun status dari Negara-negara yang baru muncul ini adalah Negara yang merdeka  bukan berarti keadaan Negara tersebut akan langsung stabil baik dari segi keamanan, politik maupun ekonominya, Mereka akan dituntut untuk menerapkan suatu system yang  tepat untuk di aplikasikan dan diterapkan kedalam negeri mereka guna menjalankan kegiatan dalam negeri secara efektif. Sehingga pada saat itu Negara-negara yang baru merdeka ini djadikan arena pertempuran bagi ideologis terbesar yang ada pada saat itu, dimana kedua Negara yang berperang (United states & Uni soviet in cold war ) akan berusaha menarik Negara-negara baru merdeka ini untuk menanamkan ideologis yang masing-masing mereka bawa sehingga pengaruh dari kedua Negara ini akan semakin meluas.

            Negara-negara barat berusaha untuk menjaga Negara-negara yang baru merdeka ini atau Negara di dunia ketiga agar tidak jatuh ke tangan-tangan rezim komunis dan mendukung Negara-negara baru merdeka ini untuk menerapkan ideologis yang Negara barat bawa dan menerapkan perekonomian kapitalis (dimana keuntungan yang akan lebih dirasakan oleh Negara-negara maju dan merugikan Negara yang sedang berkembang atau Negara miskin) begitupula sebaliknya.  Negara-negara yang baru merdeka ini akan didorong untuk mengembangkan perusahaan terbuka untuk terlibat didalam perdagangan bebas untuk mendorong persaingan,dinamisme dan pertumbuhan ekonomi. Amerika serikat pada saat itu akan berusaha menancapkan ideologinya di Negara-negara baru merdeka ini untuk memperluas power dan pengaruhnya dengan mengagung-agungkan ideologis Liberalism yang dinilai sebagai guardian angel yang sangat bermanfaat dan efektif untuk Negara-negara yang baru merdeka untuk melakukan pembangunan yang signifikan di berbagai bidang sehingga akan ditekankan bahwa Negara baru merdeka harus menerapkan system seperti ini (liberalism), penekanan yang dilakukan bisa lewat jalur diplomasi, propaganda yang dilakukan Negara barat (AS) atau bantuan ‘khusus” yang diberikan terhadap Negara dunia ketiga yang pada akirnya akan membuat Negara dunia ketiga sangat amat mudah untuk di control oleh AS dikarnakan sangat bergantungnya Negara berkembang/miskin (dunia ketiga)  terhadap Negara barat sehingga kepentingan Negara seperti AS ada akirnya akan tercapai dengan sangat mudah ataupun ada cara lainnya berupa ancaman menuju kekerasan.

Menurut teori ketergantungan prediksi-prediksi pembangunan yang disuguhkan dalam teori modernisasi sangat menyesatkan dalam praktiknya di pembangunan didunia ketiga. Pada kenyataanya, hasil dr performance ekonomi mereka sangat mengecewakan. Pembangunan model barat ini malah membuat Negara-negara berkembang malah semakin sulit dalam memajukan perekonomian mereka dikarnakan keuntungan yang besar dirasakan oleh kaum kapitalis saja hal ini terjadi karena struktur dasar perekonomian global dirancang meningkatkan perekonomian-perekonomian yang telah maju dan kaya saja seperti di barat dan utara sedangkan untuk perekonomian yang baru berkembang akan kesulitan dalam bersaing dan mempertahankan perekonomian Negara sehingga secara progresif malah semakin memiskinkan Negara-negara yang telah miskin atau berkembang.

Misalnya saja menurut pamahaman saya pribadi bagaimana mungkin Negara yang baru merdeka akan berkembang maju pesat apabila sudah didorong untuk terlibat dalam perdangan internasional sebelum mengembangkan dan memperkuat pasar local mereka yang masi berorientasi kecil sehingga MNC-MNC yang masuk kesuatu Negara berkembang akan dinilai sebagai ssuatu yang menguntungkan dari segi penyerapan tenaga kerja di banding industry local yang ada tp belum berkembang ehingga tak dapat menyerap ribuan bahkan ratusan tenaga kerja yang membutuhkan lapangan pekerjaan. Tapi hal ini akan merugikan dan melemahkan perekonomian Negara berkembang, dikarnakan selain secara tak lagsung perekonomian dalam negeri di control oleh kekuatan asing yang akan berdampak terhadap melemahnya pasar local (industry local) karna di banjiri oleh produk dan industry pasar internasional yang mematikan pasar bahkan industry local mereka sehingga tak berkembang dan merugikan Negara. Tapi apabila secara tiba-tiba Negara berkembang memutuskan untuk tidak ikut kembali kedalam perdagangan internasional atau model pembangunan ala barat ini ini akan ada konsekuensi yang di terima dari pihak Negara maju terhadap Negara berkembang  dan sekian banyak tenaga kerja yang bekerja di perusahan MNC tersebut akan terbengkalai dan menjadi pengangguran apabila didalam negri sendiri belum dapat meciptakan lapangan pekerjaan yang memadai karna apabila tidak ada lapangan pekerjaan yang memadai sebagi ganti pasar internasional yang sudah tak ada lagi malah akan semakin merugkan Negara berkembang karna akan menciptakan banyak sekali pengangguran sehingga sulit untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Negara maju.

Meskipun seagian besar Negara-negara di dunia telah membebaskan diri dari imperialism dan kolonialisme namun barat terus mendominasi dunia ketiga dengan berbagai macam cara. Para kaum kapitalis ini akan menyebarkan nilai-nilai mereka secara bertahap sehingga semakin meluas. Teoritis ketergantungan telah menunjukan cara para borjuis di Negara – Negara kaya bisa mengekspolitasi Negara miskin dan menggunakan keuntungan yang diperoleh untuk melemahkan tuntutan kelas proletarnya dengan memberikan kesejahteraan yang terbatas.

DAFTAR PUSTAKA
Baylis, John dan Steve Smith. “THE GLOBALIZATION F WORLD POLITICS”. Oxford University Press
Jackson, Robert dan Georg Sorensen. (2009). “ Pengantar Studi Hubungan Internasional”. Yogyakarta; Pustaka Pelajar

Steans, Jill dan Lyloyd Pettiford. (2009).” Hubungan Internasional Perspektif dan Tema”. Yogyakarta; Pustaka Pelajar

TEORI DEPENDENSI - PUSPITA SARI (2013230036)

Awalnya teori ketergantungan ini mencotoh dari teori modernisasi yang berpandangan bahwa pembangunan akan lebih maju apabila mencotoh negara-negara Barat dan penyebab tidak majunya negara karena faktor internal. Namun negara-negara dunia ketiga ini justru mengalami masalah karena tingginya hutang piutang. Hal ini adalah kegagalan dari teori modernisasi yang berakibat krisis kepercayaan terhadap pembangunan apa yang harus dilaksanakan. Menurut teori ketergantungan, justru faktor eksternal-lah yang harusnya dikedepankan untuk mecapai pembangunan yang setimpang dan sejajar.

Teori ketergantungan ini sering dikaitkan dengan teori Marxisme yang menyatakan ada istilah proletar dan borjuis, dimana kaum borjuis mengambil keuntungan dari kaum proletar. Sejak akhir 1960-an dan berkaitan dengan upaya Amerika Latin yang ingin membawa pergerakan ekonomi dengan mencotoh teori Modernisasi yang telah dibuktikan oleh Eropa.

Inti dari teori ketergantungan ini adalah penetrasi asing dan ketergantungan eksternal yang menyebabkan distorsi besar-besaran dalam struktur ekonomi “pinggiran” (periphery), yang pada gilirannya menimbulkan konflik sosial yang gawat dan akhirnya mendorong timbulnya penindasan negara terhadap rakyat di masyarakat yang tergantung itu. Hampir semua negara Dunia Ketiga mengalami penetrasi mendalam dan bergantung pada negara-negara industry maju (atau negara pusat / Core). Penetrasi itu bisa terjadi melalui banyak cara, dari mulai ekonomi, politik dan budaya, serta berbagai bidang lainnya mengikuti periode perkembangan suatu negara. (Mas’oed, 1990: 204)

Referensi:
Mas’oed, Mohtar., (1990). Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metedologi. Jakarta: Pustaka LP3ES.
tiford. (2009).  Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema.   Yogyakarta :   Pustaka Pelajar.

TEORI SISTEM DUNIA - CITRA TRIBUANA DEWI (2013230027)

               Teori sistem-dunia merupakan teori karya Immanuel Wallerstein. Ia  memahami Teori Sistem Dunia sebagai perkembangan ekonomi kapitalis dunia yang saling bertautan. Ketika kapitalisme menyebar ke seluruh dunia mulai berkembanglah sebuah ‘pusat’ yang terdiri dari kota-kota yang cukup maju, pabrik terus bertumbuh, dan tenaga kerja yang punya skill dan dibayar layak, dan  sebuah ‘pinggiran’ tempat berasalnya bahan mentah yang diperlukan untuk kebutuhan ekspansi dan barang primer diperoleh. Dengan lingkungan seperti itu pinggiran adalah tempat yang stagnan, mereka yang memiliki uang, teknologi dan skill akan berpindah ke pusat. Awalnya, perbedaan ‘pusat’ dan ‘pinggiran’ tidak terlalu terlihat, tetapi secara bertahap kesenjangan semakin lama semakin meluas, negara-negara ‘pusat’ berfokus pada produksi manufaktur, sedangkan ‘pinggiran’  hanya menghasilkan produk primer dan komoditas dasar.

            Sejalan dengan itu, teori ini berpendapat bahwa tidak meratanya pembangunan di dunia dan adanya pembagian dunia ‘pertama’ dan ‘ketiga’ merupakan penerapan fungsi dari sistem dunia yang kapitalis, bukan akibat dari ketertinggalan sejarah atau suatu masalah teknis. Teori sistem-dunia juga mengajukan keberadaan istilah ‘semi-pinggiran’ semua masyarakat menengah yang berperan penting dalam memfungsikan sistem dunia sebagai sebuah keseluruhan. Ketika teori sistem dunia diterapkan dalam hubungan internasional, bagiannya yang paling diutamakan adalah sebuah pernyataan bahwa unit-unit dengan tingkat lebih rendah   (negara, komunis, individu) memang penting, tetapi tingkat paling tinggi (dari sistem-dunia) membatasi perilaku dengan berbagai cara. Dengan demikian tidak masalah jika kita memulaai dari premis bahwa negara adalah aktor otonom. Hal ini juga memperingatkan perihal institusi sosial secara terus menerus berubah dan beradaptasi setiap waktu dan dalam  konteks sistem dunia yang dinamis.

Daftar pustaka:

Steans, Jill dan Llyod Pettiford. (2009).  Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema.   Yogyakarta :   Pustaka Pelajar.

TEORI SISTEM DUNIA - AMELIA G. PRAYITNO (2013230049)

Teori sistem dunia dicetuskan oleh Immanuel Wallerstein pada tahun 1970-an.  Ia membagi negara dalam 3 golongan  berdasarkan pendapatan ekonomi, kegiatan ekspor-impor, situasi politik negaranya dan kesejahteraan rakyatnya (Baylis et al. 2008, p.148) golongan-golongan tersebut yakni :

1.      Golongan  Core Countries
Core countries adalah negara yang dapat dikatakan makmur dalam perekononomian yang mempunyai angka pendapatan masyarakatnya tinggi dan memiliki pemerintahan yang demokratis dan stabil dalam bidang politiknya. Negara-negara core ini merupakan negara dengan sektor industri yang maju

2.      Golongan Semi Periphery
Golongan semi periphery adalah negara-negara berkembang yang sedang berusaha meningkatkan angka pendapatan ekonominya dan berperan aktif dalam perdagangan Internasional

3.      Golongan Periphery
Golongan periphery adaalah negara yang dapat dikatakan masih ada campur tangan negara lain dimana sistem politik negaranya masih belum stabil dan belum mandiri termasuk kegiatan ekonominya. Golongan periphery ini biasanya masih sanga tergantung kepada negara core

Sumber:

Baylis, John et al. (2008) The Globalization of World Politics: 4e. New York: Oxford

TEORI INTERDEPENDENSI - HENDRINA DESNIE PUTRI (2013230023)

Teori interdependensi adalah teori yang muncul dari liberalisme. Interdependensi berarti saling ketergantungan antara aktor-aktor di suatu negara dengan tindakan aktor-aktor di negara lain yang menjadi rekannya, hal ini terjadi karena kerjasama yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. Modernisasi meningkatkan tingkat interdependesi, khususnya pada saat kebangkitan sejumlah negara industri di tahun 1950an. Interdependensi akan menciptakan hubungan internasional yang lebih kooperatif dan menguntungkan pihak-pihak yang melakukan kerjasama. Aktor transnasional menjadi semakin penting dan kesejahteraan menjadi tujuan utama suau negara.

Menurut Richard Rosecrane, sepanjang sejarah negara berupaya mencari kekuasaan dengan menggunakan militer dan melakukan ekspansi wilayah. Tetapi, bagi negara industrialis untuk meningkatkan kesejahteraan, pembangunan ekonomi dan perdagangan luar negeri adalah cara yang yang efektif untuk digunakan. Pada akhir Perang Dingin juga pilihan negara-negara beralih ke perdagangan, menjadikan pilihan politik-militer tradisional kurang menarik (Jackson & Sorensen, 2013: 184).

Untuk menjelaskan interdependensi, Robert Keohane dan Joseph Nye menggunakan istilah interdependensi kompleks (complex interdependence) pada tahun 1977 dalam bukunya Power and Interdependence. Konsep ini lahir seiring dengan era globalisasi.

Pada  teori  interdependensi  kompleks  Kohane dan Nye menaruh penekanan pada tiga hal, yaitu: 1) Negara bukan satu-satunya aktor, terdapat aktor transnasional sebagai pemain utama; 2) Hard power bukanlah satu-satunya instrumen yang signifikan, ekonomi dan penggunaan lembaga-lembaga internasional adalah instrumen utama; 3) kesejahteraan menggantikan keamanan sebagai tujan utama (Fitri & Rani, 2013: 936)

Meskipun militer atau hard power tidak lagi menjadi hal terpenting untuk menciptakan perdamaian dunia, namun interdependensi tidak memungkiri anarki iternasional tetap ada hingga saat ini. Akan tetapi, teori ini lebih menyarankan penggunaan soft power. Kerjasama internasional bisa dijalin oleh aktor-aktor dalam menyelesaikan konflik, ememajukan perekonomian, dan mencapai tujuan.

Referensi:
Buku:
Jackson, Robert. dan Georg Sorensen. (2013). Pengantar Studi Hubungan Internasional:
Teori dan Pendekatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Jurnal:

Fitri, Hendrini Renola. dan Faisyal Rani. (2013). Jurnal Transnasional, Vol. 5, No. 1

TEORI DEPENDENSI - RINDY LIA KOLOAY (2013230046)

Teori ketergantungan merupakan kelompok yang mengkhususkan penelitiannya pada hubungan antara Negara dunia pertama dan dunia ketiga. Kelompok ini menjadi perhatian besar pada tahun 1970-an dan 1980-an tetapi sebenarnya sudah dirintis pada tahun 1960-an oleh Paul Baran lalu kemudian oleh Andre Gunder Frank. Berangkat dari konsep imperialisme Lenin, kelompok ini beranggapan bahwa imperialism masih hidup namun di dalam bentuk lain, yaitu dominasi ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang. Oleh karena itu, teori ini awalnya memusatkan perhatian pada negara-negara Amerika Selatan karena adanya dominasi ekonomi. Dominasi ekonomi yang terjadi dapat dilihat dari tingginya hutang dan kesenjangan sosial-ekonomi dari pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga.
            Pembangunan yang dilakukan oleh negara-negara berkembang atau Negara dunia ketiga hamper selalu berkaitan dengan kepentingan Negara maju. Pertama, negara-negara berkembang dijadikan sebagai sumber penyediaan sumber daya alam dan sumber daya manusia, investasi negara-negara tersebut untung karena memberikan tenaga kerjanya di beri upah yang rendah, sewa tanah yang rendah, dan bahan baku yang murah. Kedua, negara-negara berkembang menjadi pasar untuk menyerap hasil produksi Negara maju.
            Eksploitasi yang dilakukan oleh negara-negara maju tersebut menyebabkan terjadinya kemiskinan secara terus-menerus di Negara berkembang karena pengaruh strategi ekonomi dan politik dari Negara maju, ketergantungan yang terjadi dilihat dari kemiskinan.

Sumber:

Budiardjo, Miriam. (2009). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

TEORI SISTEM DUNIA - GRAZIELLA LEDYSINA (2013230033)

Teori sistemadalah sebuah sistem kapitalis yang sangat kuat pengaruhnya terhadap sejumlah negara yang ada di dunia, sehingga dalam kaitan integrasi yang terjadi juga hanya berdasarkan kepentingan ekonomi dari pada relasi politik. Dapat dikatakan bahwa hubungan yang terjadi hanyalah bersifat profit dan defisit. Teori ini berkeyakinan bahwa tak ada satupun negara yang mampu melepaskan diri dari sistem kapitalis.
Beberapa hal yang melatar belakangi munculnya teori sistem dunia:

a.       Negara-negara di Asia Timur (Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hongkong, dan singapura) terus mencapi pertumbuhan ekonomi tinggi. Sulit untuk mengaitkan bahwa ini sebagai hasil kerja para imperialis, pembangunan yang bergantung, atau ketergantungan yang dinamis, karena industri di kawasan ini secara nyata menjadi sebuah tantangan bagi Amerika serikat. Analisisnya adalah terjadi usaha mandiri atau memanfaatkan kesempatan yang datang dari negara-negara yang awalnya adalah negara semi pinggiran menjadi negara sentral.

b.      Krisis di berbagai negara sosialis, yakni perpecahan Republik Rakyat China dan Uni soviet. Kegagalan Revolusi Kebudayaan, stagnasi ekonomi di negara-negara sosialis, perkembangan yang evolutif dan mulainya negara sosialis menerima investasi modal asing yang kavitalistik. Fenomena tersebut menandai kegagalan Marxisme revolusioner dan revolusi Marxisme. Analisisnya adalah terjadinya krisis di negara sosialis, membuat negaranya terpakasa meminjam modal kepada negara dengan sistem kapitalis. Artinya bahwa sosialis tidak lepas dari pengaruh dari kapitalis.

c.    Munculnya krisis di Amerika Serikat, Perang Vietnam, Krisis Watergate, embargo minyak tahun 1975, inflasi ekonomi Amerika pada akhir 1070-an, kebijaksanaan perdagangan dan investasi produktif, defisit anggaran belanja pemerintah, defisit neraca pembayaran yang makin meluas pada tahun 1980-an menandai hancurnya hegemony politik ekonomi Amerika. Terjadinya krisis di negara sentral membuat negara-negara semi pinggiran memanfaatkan kesempatan untuk memandirikan negaranya atau pun membuat suatu kebijakan baru yang membuat negaranya semakin pesat berkembang.

Menurut Wallertstein jika dunia hanya dibagi dalam dua bentuk negara, masih banyak negara yang belum masuk kedalam 2 kategori tersebut.Maka menurut Wallerstein sistem dunia yang kapitalis dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu, negara sentral, negara semi-preferi, dan negara negara preferi (pinggiran). Munculnya negara semi pinggiran oleh Wallerstein dikarenakan pemikiran jika hanya terdapat 2 kutub di dunia yaitu negara sentral dan pinggiran saja, maka disintegrasi akan muncul dengan mudah dalam sistem dunia itu. Sehingga, negara semi pinggiran dinilai akan menghindari disintegrasi tersebut. Kemudian, negara semi pinggiran juga dinilai bisa menjadi iklim ekonomi baru.Para pemilik modal bisa memindahkan modalnya dari tempat yang sudah tidak lagi efisien ke tempat baru yang sedang tumbuh.Hal ini terjadi karena di negara sentral yang sebelumnya merupakan ekonomi unggul mengalami penurunan atau kehilangan keuntungan biaya komparatif sebagai akibat meningkatnya upah yang terus menerus karena eksploitasi buruh di negara-negara pinggiran.

Penekanan pada teori ini adalah peralihan kekuatan negara sangat dinamis.Negara sentral bisa menjadi negara semi pinggiran, negara semi pinggiran bisa menjadi negara sentral dan negara pinggiran, sedangkan negara pinggiran bisa menjadi negara semi pinggiran.Jadi sistem kapitalis membentuk dunia yang sangat dinamis.Contohnya Amerika yang bisa menggulingkan Inggris dan Belanda sebagai negara sentral setelah Perang Dunia II pasca kehancuran dahsyat di Eropa sebagai.Maka ketika itu Amerika berada pada posisi negara semi pinggiran dan beralih menjadi negara sentral.

Wallstrein merumuskan tiga strategi terjadinya proses kenaikan kelas:

1.      Kenaikan kelas terjadi karena menjemput dan merebut kesempatan yang datang. Sebagai misal negara pinggiran tidak lagi dapat mengimpor barang-barang industri oleh karena mahal sedangkan komiditi primer mereka murah sekali, maka negara pinggiran mengambil tindakan yang berani untuk melakukan industrialisasi substitusi impor.

2.      Kenaikan kelas terjadi karena adanya undangan. Sebagai contoh perusahaan-perusahaan industri raksasa di negara-negara pusat perlu melakukan ekspansi ke luar dan kemudian lahir apa yang disebut dengan MNC. Akibat dari perkembangan ini, maka muncullah industri-industri di negara-negara pinggiran yang diundang oleh oleh perusahaan-perusahaan MNC untuk bekerjasama. Melalui proses ini maka posisi negara pinggiran dapat meningkat menjadi setengah pinggiran.

3.   Kenaikan kelas terjadi karena usaha yang dilakukan negara dalam memandirikan negaranya. Sebagai misal saat ini dilakukan oleh Peru dan Chile yang dengan berani melepaskan dirinya dari eksploitasi negara-negara yang lebih maju dengan cara menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing. Namun demikian, semuanya ini tergantung pada kondisi sistem dunia yang ada, apakah pada saat negara tersebut mencoba memandirikan dirinya, peluang dari sistem dunia memang ada.Jika tidak, mungkin dapat saja gagal.

           
Referensi: 

www.academia.edu/6708759/Teori_Sistem_Dunia_World_Sistem_Theory.file.upi.edu/Direktori/FPIPS/.../HandBook_SOSBANG.pdf.

TEORI KETERGANTUNGAN - ANISSA (2013230048)

Akhir 1960-an “pasca behavioralis” untuk membuat studi hubungan internasional menjadi relevan dengan persoalan manusia masa kini, dalam literatur berbahsa inggris tentang ilmu ini muncul teorisasi tentang hubungan yang asimetris, yaitu hubungan ketergantungan. Teori ini sudah berkembang di tempat asalnya, yaitu Amerika Latin sejak awal 1950-an. Pada dasarnya, teori ini menjelaskan persoalan kemunduran negara-negara bekas jajahan di Dunia Ketiga dengan melihatnya dalam konteks global. Teoritisi modernisasionis menduga bahwa kemunduran itu bersifat internal dan cultural (seperti, kurangnya “motivasi berprestasi” despotsme, korupsi), teorisasi dependencia hendak menunjukan bahwa penyebab itu bersifat eksternal dan struktural. Sementara teoritisi imperialism melihat hubungan antara negara kuat dan lemah itu dari persepektif negara penjajah (Eropa dan Amerika Utara), teoritisi dependencia memandang persoalannya dari persepektif negara terjajah. 
Inti dari teori dependencia, yaitu penetrasi asing dan ketergantungan eksternal menyebabkan timbulnya distorsi besar-besaran dalam struktur ekonomi “pinggiran” (periphery), yang pada gilirannya menimbulkan konflik sosial yang gawat dan akhirnya mendorong timbulnya penindasan negara terhadap rakyat di masyarakat yang tergantung itu. Hampir semua negara Dunia Ketiga mengalami penetrasi mendalam dan sangat tergantung pada negara-negara industry maju dan terutama ekonomi dunia. Penetrasi itu bisa terjadi melalui cara, ekonomi, politik dan cultural, dan berbagai periode perkembangan suatu negara. Penetrasi ekonomi bisa melalui financial atau teknologis. Cara paling umum adalah melalui penanaman modal langsung, dimana perusahaan multinasional (PMN) membentuk cabang-cabang yang terlibat dalam pertambangan, pertanian, pabrik mesin dan perdagangan. Penetrasi politik dan cultural bisa berlangsung melalui paket-paket meteril atau simbolis, seperti bukum program televise, Koran, majalah dan film. Misalnya, para pemuda yang pulang belajar di negeri pusat bisa membawa unsur-unsur kultur industrial Barat, seperti cara berpikir dan bertindak, ideology, nilai pola konsumsi (Mos’oed,1990:204).

Daftar Pustaka :

Mos’oed, Mochtar. (1990). Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES

TEORI INTERDEPENDENSI - ADE PUTRI MAYANGSARI (2013230026)

        Teori interdependensi adalah teori yang lahir dari prespektif liberalis. Yaitu adanya saling ketergantungan diantara dua negara atau lebih. Menurut pemahaman Robert O. Kohane dan Joseph S. Nye menjelaskan bahwa interdependensi adalah saling ketergantungan yang mempertemukan kekurangan dari masing-masing negara melalui keunggulan komparatif masyarakat. Penjelasan tersebut juga dijadikan landasan dasar atas terjadinya hubungan bilateral antar dua negara. Di dalam konsep ini menjelaskan bahwa tidak ada negara yang bisa hidup sendiri dan memenuhi seluruh kebutuhannya tanpa bantuan negara lain. Semua negara pasti memiliki ketergantungan pada sumber daya negara lain baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam dari negara tersebut. Dari situlah menyebabkan jika suatu negara mengeluarkan sebuah kebijakan akan memberikan akibat pada negara lain.

          Interdependensi memiliki asumsi bahwa modernisasi akan meningkatkan tingak interdependensi antar negara. Actor transnasional menjadi semakin penting, kekuatan militer bukan instrument yang tidak absolute, dan kesejahteraan adakah tujuan utama dari sebuah negara. Saling ketergantungan antara beberapa negara dapat terjadi di segala sektor . Dalam keberhasilan interdependensi suatu negara ditentukan oleh dua hal, yaitu power dan kemampuan tawar-menawar, dan resim internasional. Power dan tawar menawar berkaitan dengan kemampuan asimetris. hal ini disebabkan meski dalam teori interdependensi ada dua pihak yang saling bergantungan, namun dalam kenyataannya hubungan simetris itu jarang sekali terjadi. Karena itulah actor dalam hubungan interdependensi akan sesuai dengan isu yang ada. Dan rezim internasional akan bertumpu pada pada ketergantungan asimetris yang menyediakan setiap pihak untuk saling mempengaruhi kebijakan ekonomi-politik dalam mencapai kesepakatan  yang disepakati oleh negara yang bersangkutan.

Daftar Pustaka:
Perwita, Anak Agung Banyu dan Yayan Mochamad Yani. 2006, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Remaja Rosdakarya.

www.academia.edu, Arindha Pangestu di Akses pada 14 maret pukul 20.00

TEORI INTERDEPENDENSI - ADE PUTRI MAYANGSARI (2013230026)

             Teori interdependensi adalah teori yang lahir dari prespektif liberalis. Yaitu adanya saling ketergantungan diantara dua negara atau lebih. Menurut pemahaman Robert O. Kohane dan Joseph S. Nye menjelaskan bahwa interdependensi adalah saling ketergantungan yang mempertemukan kekurangan dari masing-masing negara melalui keunggulan komparatif masyarakat. Penjelasan tersebut juga dijadikan landasan dasar atas terjadinya hubungan bilateral antar dua negara. Di dalam konsep ini menjelaskan bahwa tidak ada negara yang bisa hidup sendiri dan memenuhi seluruh kebutuhannya tanpa bantuan negara lain. Semua negara pasti memiliki ketergantungan pada sumber daya negara lain baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam dari negara tersebut. Dari situlah menyebabkan jika suatu negara mengeluarkan sebuah kebijakan akan memberikan akibat pada negara lain.

          Interdependensi memiliki asumsi bahwa modernisasi akan meningkatkan tingak interdependensi antar negara. Actor transnasional menjadi semakin penting, kekuatan militer bukan instrument yang tidak absolute, dan kesejahteraan adakah tujuan utama dari sebuah negara. Saling ketergantungan antara beberapa negara dapat terjadi di segala sektor . Dalam keberhasilan interdependensi suatu negara ditentukan oleh dua hal, yaitu power dan kemampuan tawar-menawar, dan resim internasional. Power dan tawar menawar berkaitan dengan kemampuan asimetris. hal ini disebabkan meski dalam teori interdependensi ada dua pihak yang saling bergantungan, namun dalam kenyataannya hubungan simetris itu jarang sekali terjadi. Karena itulah actor dalam hubungan interdependensi akan sesuai dengan isu yang ada. Dan rezim internasional akan bertumpu pada pada ketergantungan asimetris yang menyediakan setiap pihak untuk saling mempengaruhi kebijakan ekonomi-politik dalam mencapai kesepakatan  yang disepakati oleh negara yang bersangkutan.

Daftar Pustaka:
Perwita, Anak Agung Banyu dan Yayan Mochamad Yani. 2006, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Remaja Rosdakarya.
www.academia.edu, Arindha Pangestu di Akses pada 14 maret pukul 20.00

REVIEW TEORI DEPENDENSI - AZINAWA AL-ARIEF (2013230047)

             Dependency theory atau yang biasa disebut Teori Ketergantungan pada awalnya dikemukakan oleh beberapa ahli salah satunya yaitu oleh Andre Gunder Frunk, menurutnya teori dependensi adalah kapitalisme global yang akan membuat ketergantungan masa lalu dan sekarang oleh karena itu negara yang tidak maju dan berkembang harus memutuskan hubungan dengan Negara maju supaya Negara berkembang bias maju (Budiardjo, 2009).

Teori ini muncul di Amerika Latin pada awal tahun 1960-an, teori ini merupakan jawaban atas kegagalan program yang dijalankan oleh ECLA (United Nation Economic Commission for Latin Amerika). Tujuan awal dibentuknya ECLA untuk membantu menggerakan laju perekonomian khususnya di Negara-negara Amerika Latin dengan cara mengaplikasikan teori modernisasi yang telah berhasil di Eropa.

Teori Dependensi lebih berfokus terhadap masalah pembangunan di Negara Dunia Ketiga. Dengan kata lain teori dependensi ini adalah bentuk perlawanan Negara-negara kecil atau berkembang terhadap Negara maju dari segi ekonomi, politik, dan budaya serta intelektual mereka. Karena Negara maju akan selalu menindas Negara Dunia Ketiga dengan selalu menjaga arus ekonomi dari Negara kecil ke Negara besar.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa teori ini mencermati bagaimana hubungan Negara Dunia Ketiga dengan Negara maju yang saling ketergantungan, karena dianggap adanya ketidakadilan dan hanya merugikan Negara dunia ketiga saja.

Sumber:

Budiardjo, Miriam. (2009). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

TEORI INTERDEPENDENSI - AKHMAD MUHAJIRIN (2013230031)

Pengertian Interdependensi adalah sebuah hubungan yang saling ketergantungan, antara satu pihak dengan pihak lain. Dalam cakupan sosial, interdependensi menggambarkan tentang ketergantungan antara manusia dengan manusia lain nya yang terikat akibat kebutuhan antara satu sama lain. Teori interdependensi dalam tatanan dunia melihat negara sebagai aktor yang bekerjasama antara satu negara dengan negara lain, ataupun bekerjasama secara kolektif dengan membentuk satu wadah organisasi internasional yang memiliki tujuan yang sama, hal ini menyebabkan negara-negara yang tergabung dalam wadah tersebut memiliki ketergantungan satu sama lain.

Selanjutnya dalam liberalisme interdependensi, interdependensi berarti ketergantungan timbal balik rakyat dan pemerintah dipengaruhi oleh apa yang terjadi di mana pun, oleh tindakan rekan nya di negara lain. Dengan demikian, tingkat tertinggi hubungan transnasional antara negara berarti tingkat tertinggi interdependensi. Abad ke 20, khususnya periode sejak 1950-an, telah memperlihatkatn kebangkitan sejumlah negara industrialis. Richard Rosecrance (1986; 1995; 1999) menganalisis dampak pembangunan ini pada kebijakan negara. Sepanjang sejarah negara berupaya mencari kekuasaan dengan alat-alat kekuatan militer dan perluasan wilayah. Akan tetapi, bagi negara industrialis pembangunan ekonomi dan perdagangan luar negri dan perdagangan luar negri adalah alat-alat dalam mencapai keunggulan dan kesejahteraan yang lebih mencukupi dan dengan sedikit biaya. (Robert Jackson, georg sorensen, edisi 5, hal 184)

Pada dasarnya, kaum liberal berpendapat bahwa pembagian tenaga kerja tinggi dalam perekonomian internasional meningkatkan interdependensi antarnegara, dan hal itu menekan dan mengurangi konflik antarnegara. Namun masih tetap ada resiko negara-negara pada era global saat ini akan masuk kembali dalam fase perlombaan senjata dan akan jatuh kembali pada konflik yang jauh lebih besar. Namun saat ini konflik yang sedang terjadi terdapat di negara-negara berkembang, hal ini menurut Richard Rosecrance terjadi akibat dari interdependensi negara-negara tersebut belum masuk daalam interdependensi tingkat tinggi.

Referensi:
Buku  
Pengantar Studi Hubungan Internasional Teori dan Pendekatan, Robert Jacson dan Georg Sorensen.
Web

TEORI INTERDEPENDENSI - DIAJENG RANGGI RATU RENDANI (2013230050)

Dalam teori interdependensi , menyatakan bahwa negara bukan aktor independen secara keseluruhan, tetapi negara saling bergantung satu dengan yang lain. Tidak ada satu negara pun yang secara keseluruhan dapat memenuhi segala kebutuhan dan kepentingannya secara sendiri, melainkan bergantung dengan segala sumber daya dari negara itu sendiri dan dari negara lain. Oleh karena itu, kebijakan yang dikeluarkan oleh suatu negara akan berdampak cepat terhadap negara lainnya.

            Interdependensi merupakan sebuah turunan dari liberalisme.  Di dalam liberalisme interdependensi berasumsi bahwa modernisasi akan meningkatkan tingkat interdependensi antar negara. Interdependensi merupakan saling ketergantungan yang mempertemukan kekurangan dari masing-masing negara melalui keunggulan komparatif masyarakat. Pemahaman tersebut berdasarkan pemikiran dari Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye. Aktor transnasional menjadi semakin penting, kekuatan militer tidak absolut, dan kesejahteraan merupakan tujuan yang dominan dalam suatu negara.

            Interdependensi dapat terjadi di berbagai isu, seperti ekonomi dan politik. Di sektor ekonomi seperti perdagangan, investasi dan finansial. Transaksi perdagangan memiliki implikasi yang besar terhadap interdependensi dibandingkan transaksi internasional yang berupa informasi antar pemerintah. Akan terjadi mutual dependent antar negara dalam hal barang dan jasa yang tidak dapat mereka produksi sendiri. Interdependensi semacam ini akan sangat merugikan jika diputuskan hubungannya. Sektor investasi, semakin tingginya kenaikan resiko bagi para aktor interdependensi akan mengalami kecenderungan yang disebabkan oleh berubahnya pola investasi. Pada sektor finansial, hal yang menjadi sangat vital dalam hubungan interdependensi adalah nilai tukar uang. Setiap perubahan-perubahan yang terjadi dalam operasi keuangan akan meningkatkan hubungan interdependensi. Sedangkan pada sektor politik, terdapat suatu kesadaran bahwa suatu negara tidak dapat menjamin kelangsungnan hidupnya secara sendiri tanpa adanya kerjasama dengan negara lain. Kerjasama antar negara tersebutlah yang akan dapat saling melengkapi kekurangan dari masing-masing negara.

            Dalam interdependensi keberhasilan suatu negara dalam bekerjasama bertumpu pada dua hal, yaitu power dan kemampuan tawar menawar, dan rezim internasional. Power dan kemampuan tawar menawar berkaitan dengan kondisi interdependensi yang tidak sejalan atau asimetris, karena dalam teorinya hubungan interdependensi lebih mengarah kepada hubungan timbal balik, namun pada kenyataannya hubungan yang sejalan atau simetris tersebut jarang terjadi. Kemudian, rezim internasional bertumpu pada hubungan saling ketergantungan yang tidak sejalan atau asimetris yang menyediakan setiap pihak untuk saling mempengaruhi melalui kebijakan ekonomi politiknya dalam mencapai kesepakatan diantara mereka.

Sumber:
Perwita, Anak Agung Banyu dan Yani, Yanyan Mochamad. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakaya.

Yanuar, Ikbar. 2006. Ekonomi Politik Internasional Konsep dan Teori. Bandung: PT. Refika Aditama.

TEORI SISTEM DUNIA - LANNY KANIA DEWI R. (2013230056)

            Teori Sistem Dunia mulai dikembangkan mulai tahun 1970-an oleh Immanuel Wallerstein. Teori ini muncul atas kritikan terhadap dua teori sebelumnya, yaitu Teori Modernisasi yang dianggap sebagai bentuk dari imperialisme, lalu muncul Teori Dependensi, yang dipandang oleh orang-orang modernisasi sebagai alat untuk mempropagandakan ideologi marxisme. Sehingga lahirlah teori sistem dunia, yang menjelaskan tentang dinamika ekonomi kapitalis dunia. Teori Sistem Dunia ini dilatar belakangi oleh perkembangan feodalisme di Eropa Barat pada tahun 1150-1300. Dan mengalami krisis feodal pada tahun 1300-1450 yang mengakibatkan produksi pertanian yang menurun.

          Definisi pertama yang diberikan Wallerstein terhadap teori sistem dunia adalah pembagian wilayah kerja. Selain itu lewat bukunya “World System Theory” pada tahun 1947, Immanuel Wallerstein mengatakan bahwa “Sistem dunia adalah sebuah sistem sosial yang memiliki batasan-batasa, struktur, anggota kelompok, peraturan dan adanya hubungan antara negara anggota kelompok”. Teori ini membagi dunia menjadi kelompok-kelompok negara yang ditentukan memalui hubungan dan kondisi sebuah negara. Ada 4 golongan yang berbeda, dimana posisi negara relatif dalam perekonomian internal dan dunia, dan karakteristik politiknya:

1.      Kelompok Core atau inti merupakan wilayah utama yang memiliki sistem politik yang kuat, birokrasi yang luas, dan militer yang banyak. Dalam kelompok inti ini terdapat kaum-kaum borjuis yang memiliki kekuasaan penuh atas perdagangan internasional.
2.      Kelompok Periphery atau pinggiran merupakan kelompok negara yang tidak memiliki sistem politik atau pemerintahan pusat yang kuat, atau negara ini dikuasai oleh negara lain, selain itu Negara ini mengandalkan praktek kerja paksa.
3.      Kelompok semi-periphery merupakan kelompok negara yang berada diantara kelompok negara inti dan periphery. Kelompok negara semi-periphery ini merupakan negara yang sedang meningkatkan posisi negaranya dalam sistem ekonomi dunia.
4.      Kelompok Eksternal Areas merupakan negara yang berada diluar sistem ekonomi dunia, negara tersebut mempertahankan sistem ekonominya sendiri, biasanya dengan mengandalkan jalur pedagangan internal mereka sehingga masih dapat maju dan tetap berada diluar sistem ekonomi dunia.

          Teori sistem dunia ini bersifat dinamis. Dengan adanya keempat kategori tersebut, tentu negara intilah yang mendapatkan keuntungan terbesar dari adanya perdagangan internasional dan pertukaran barang produksi, namun bukan berarti negara yang berada diluar kategori inti tidak mendapatkan keuntungan dari adanya hubungan perdagangan dunia. Melalui teori ini Wallerstein dapat dikatakan mencoba untuk menjelaskan betapa luasnya efek dari modernisasi dan berpengaruh terhadap ekonomi dan politik suatu negara, hubungan antar negara digambarkan oleh Wallerstein sebagai hubungan yang relatifi dan tidak konstan.

Sumber :
1.      Suwarno, Alvin Y. 1991. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia: Teori-teori Modernisasi, Dependensi, dan Sistem Dunia. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial
2.      Martinez Vela, Charlos A. 2001. World Systems Theory. ESD.83 (PDF- akses 14 Maret 2016)
3.      Halsall Aug, Paul. 1997. Modern History Sourcebook: Summary of Wallerstein on World System Theory. Fordam University

Legacy.fordham.edu/halshall/MOD/Wallerstein.asp akses 16 Maret 2016